Kamis, 16 Februari 2017

Sejarah GPDI di Papua

Catatan Singkat 64 Tahun Perjalanan GPdI di Tanah Papua

Oleh : Anderson Waroy *)
Tanggal 30 September 2012 adalah Hari Ulang Tahun (HUT) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Tanah Papua yang ke-64 Tahun. Usia ini merupakan usia tertua untuk aliran Pantekosta di Tanah Papua. Pergerakan Api Pantekosta di Tanah Papua dibawah panji Gereja Pantekosta di Indonesia atau De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indie masuk pertama kali di Tanah Papua pada tanggal 30 September 1948, mula – mula dikobarkan oleh keluarga hamba Tuhan yang juga putra terbaik Papua yakni Pdt. Yonathan Itar beserta istri Frida Rompuwatu/Itar dan anak pertama Febe Itaar di Kota Minyak Sorong. Kedatangan Hamba Tuhan Pdt. Yonathan Itaar dan keluarga dari Manado ke Kota Minyak Sorong adalah atas permintaan anak – anak Tuhan yang telah berada di Nieuw Guinea (Papua) dan berkerja pada perusahaan minyak NV.NNGPM (Netherlands Nieuw Guinea Petroleum Company). Mereka adalah, Keluarga Hendrik Marthen Assa, Wim Wakarya, Yan Yohan Assa, Heuber Masenggi Winikan, Semuel Tumbel, Wempi Pangkay dan beberapa keluarga lainnya.
Berawal dari sanalah pergerakan Api Pantekosta terus menyala, sehingga pada tanggal 13 Februari 1949 jam 05.00 Wit bertempat di Pulau Doom, diadakanlah ibadah Baptisan Air untuk pertama kalinya terhadap 9 (Sembilan) jiwa, masing-masing ; Yustus Menanti, Alm. Yosef Refasi, Alm. Silwanus Mara, Alberthus Wanggai, Alm. Lambert Sewo, Alm.Daniel Arompayai dan sebagainya. Setelah baptisan itu, maka dalam kurun waktu satu tahun komunitas Kristen Pantekosta telah berkembang menjadi 21 Kepala Keluarga (KK) ditambah Pemuda & Pemudi. seiring dengan bertambahnya jiwa-jiwa baru, maka tantangan dan hambatan pun tak terelakan. Kelompok ini ditekan untuk menghentikan kegiatan Ibadah dan ajarannya. Pemerintah diminta untuk segera mencabut ijin kegiatannya.
Melihat kegiatan umat kristen sedang resah akibat kegiatan kelompok ini, maka pemerintah setempat (HPB) memanggil Pdt. Yonathan Itaar menghadap dan ditekan untuk menghentikan kegiatannya dengan dua pilihan; pertama, hentikan kegiatan atau bubarkan persekutuan dan kedua, akan dideportasi apabila tidak melaksanakan perintah ini.
Menghadapi tekanan ini, Umat Tuhan tidak panik dan menyerah. Mereka bergumul dalam doa dan puasa memohon pembelaan Tuhan. Mujizat terjadi, Tuhan Yesus Kepala Gereja mendengarkan doa mereka. Pemerintah setempat atau HPB meninggalkan Sorong Doom dan perlawanan melemah. Pergerakan Api Pantekosta terus menyala, dari kota minyak Sorong, Api Pantekosta membakar Manokwari, disana terdapat Keluarga Edema, Keluarga M.Moyart dan Suster Alt dan dari sinilah berdirilah Jemaat Pinksterkerk (Pantekosta) yang punya pengaruh amat kuat terhadap orang-orang pribumi di teluk Dore. Banyak pribumi bertobat dan memberi diri di baptis dalam Roh Kudus.
Kobaran Api Pantekosta terus menjalar, Teluk Wondama mendapat giliran terbakar. Disana ada Keluarga Sterling, Kabiai, Deminaus Arumisore dan Melianus Imbiri dan Yahya Yoweni. Daerah Nabire turut terbakar, disana ada Keluarga Gad Rumawi, Sdr Yoweny, Charles Sayori, Lukas Rumi (Gembala Jemaat), secara berturut – turut wilayah Nederland,s (Sekarang Papua) dibakar Api Pantekosta. Yapen Waropen tercatat pionir dan umat Tuhan sepert; Simon Sikoway, Isakar Imbiri, Yonathan Oropa, Ferdinand Maniani, dll. Didaerah Biak dan Jayapura juga ikut terbakar dengan kobaran Api Pantekosta, di Genyem (Kab. Jayapura) dan Kabupaten Sarmi pun ikut terbakar dengan kobaran Api Pantekosta dengan para pionir seperti ; Cory Leimena, Yonas Ronsumbre, Noach Dawan, Christian Kawer, Yonas Hanasbey, Korery, Yakob Meraujde, Kipuu, Lukas Youwe, Thomas Itaar dan Simson Numberi (Gembala Jemaat GPdI Alfa-Omega Jayapura). Inilah yang kemudian menjadi tongak pergerakan Api Pantekosta di Tanah Papua sampai hari ini.
Dalam perjalanan panjang dan pasang surutnya, GPdI di Tanah Papua yang telah melintasi fase-fase sejarah yang cukup sulit dan tidak mudah, hidup dimasa Kolonial Belanda, Pergerakan G30-SPKI, Masa Pepera hingga memasuki usianya yang ke-64 tahun, tidak pernah terlepas dari tantangan dan hambatan. Meski demikian, pergerakan Api Pantekosta di Tanah Papua dibawah panji Gereja Pantekosta di Indonesia tidak pernah padam dan akan terus maju dan berkembang diseantero tanah ini.
Fakta membuktikan, meski telah beberapa kali terjadi pergantian pucuk pimpinan didalam tubuh organisasi GPdI Papua yang dimulai dari ; Kepemimpinan Pdt. Jonathan Itar ( 1948 – 1962), Kepemimpian Pdt. Thomas Itar (1962 – 1973), Kepemimpinan Pdt. Andreas Ayomi (1973 – 1997), Kepemimpinan Plt. Pdt. Dr. Freddy Pattirajawane ( 1995 – 1999), Kepemimpinan Pdt. Mesak Dawir (1998 – 2003) hingga Kepemimpinan Pdt. Gerson Waromi (2003 – sekarang ini), GPdI Papua dengan Visi “Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus Yang Termaktub Dalam Alkitab Demi Keselamatan Umat Manusia” dan Misi antara lain ; Melaksanakan Pekabaran Injil dan Penginjilan, Melaksanakan Pelayanan Gerejawi dengan melibatkan jemaat secara aktif, Membuka dan atau mendirikan Sidang Jemaat/Ibadah di tempat yang memungkinkan, Menyelenggarakan Pendidikan Rohani, Pendidikan Umum, Kegiatan Diakonia, Sosial, dan Pengentasan Kemiskinan, Melakukan Penyiaran Kegiatan Gereja melalui Media Massa, Cetak dan Elektronik serta mengusahakan rekaman siaran Penginjilan, ibadah, dan music rohani serta mengusahakan penerbitan literatur rohani dan bacaan umum, Melakukan hubungan, komunikasi antar mitra Gereja, Pemerintah maupun non Pemerintah dan Melakukan upaya mendapatkan dana (pendanaan) dari berbagai sumber yang tidak menyalahi ketentuan Firman Allah, Saat ini telah memiliki jumlah Anggota Jemaat diatas 250.000 ribu jiwa, Memiliki Sidang Mandiri/Muda, Cabang, Pos PI, Sector, Rayon, Cell sebanyak 346 buah, Memiliki jumlah pelayan (Hamba Tuhan) sebanyak kurang lebih 1500 orang, Memiliki tingkat penyebaran dan pertumbuhan yang cukup merata di Provinsi Papua, Memiliki kurang lebih 50 Majelis Wilayah dihampir semua Kabupaten/Kota di Provinsi Papua, Memiliki Pemimpin besar yang dihormati dan berintegritas serta sejumlah asset.
Dan diusianya yang ke – 64 Tahun ini, menjadi doa dan harapan kita semua, lebih khusus umat GPdI di Tanah Papua,kiranya GPdI di Tanah Papua akan terus mengukir sejarah, menebar kasih dan menunaikan tugas amanat Agung Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gereja. GPdI akan terus membuka dan melebarkan ladang pekerjaan Tuhan hingga menjadi maju, bertumbuh, berkembang menjadi besar dan kuat didalam pertolongan dan tuntunan Kuasa Roh kudus dengan mengisi setiap punggung, melingkari lembah, bukit-bukit, gunung yang menjulang tinggi, tebing dan jurang yang dalam, sungai, rawa-rawa, ngarai hingga pelosok pedalaman Papua, dimulai dari kawasan Pesisir Papua, Papua bagian Utara, Selatan, Barat, Timur hingga Pegunungan Tengah Papua. GPdI Papua akan terus eksis dan berpartisipasi aktif melalui tri panggilan gereja membantu pemerintah daerah dalam memajukan pembangunan daerah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Papua, memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan menuju kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh umat Tuhan dan rakyat di atas Tanah ini. Akhirnya Sekali GPdI Tetap GPdI, Dirgahayu 64 Tahun GPdI di Tanah Papua.